About Me
- Adigendheng
- Nama pemberian orangtua Wirato. Baptis dengan nama Antonius. ditambahi nama Adi oleh seseorang. Jadilah Antonius Wierato Adi
Showing posts with label mutiara. Show all posts
Showing posts with label mutiara. Show all posts
Saturday, December 21, 2019
Sunday, November 17, 2019
Omah Diskusi : Pel dan Manusia
Omah Diskusi : Pel dan Manusia: Tentu anda pernah menge-pel lantai dengan air. Atau pernah melihat orang lain menge-pel lantai dengan air. Tidak jarang kita melihat...
Thursday, November 7, 2019
Kerak Toilet VS Kerak Kehidupan
Hari
ini merupakan hari yang istimewa bagi saya. Jam kosong hari ini saya gunakan
untuk membersihkan kerak Toilet. Hitam legam dan kasar bila diraba. Begitu juga
keempat sisi dinding kamar mandi mulai berwarna kecoklatan dan bintik-bintik
hitam. Aku minta kepada salah satu teman untuk mengambilkan dua botol pembersih
kerak lantai. Pada awalnya saya mengerjakan pekerjaan ini dengan penuh semangat
karena yakin bisa membersihkan dengan baik. Botol pertama saya buka dan
langsung saya siramkan ke bagian kerak yang aduhai. Hati mulai senang karena
kerak bereaksi dengan mengeluarkan busa putih sebagai tanda kalau dia
mengelupas dan jengkel dengan perbuatan saya.
Mulai
saya men-nyincing-kan celana
(menggulung celana panjang) mendodok (jongkok) dan mulai menyikat kerak lantai
dengan serabut baja. Eh ternyata ... bagian kerak lantai ini buandel nya
setengah mati. Dengan merek yang kata iklan ampuh ternyata tidak seampuh yang
di iklan. Satu botol penuh saya guyurkan dengan maksud kerak segera mau di
atur, ternyata hasilnya sama. Lalu dengan merek yang lain yang kata iklan juga
lebih aduhai. Hasilnya? Sama saja. Lalu saya mulai meninggalkan kerak di lantai
dan di kloset. Beralih ke kotoran yang menempel di dinding. Ternyata bisa.
Dengan lebih keras gosokan, kotoran langsung mengelupas.
Tentu saja saat kita menjumpai kotoran yang membandel hanya perasaan jengkel tidak karuan. Kita merasa tidak ada banyak hal yang bisa kita buat selain umpatan-umpatan dalam hati maupun pikiran. saking membandelnya kerak dan kita capek menggosokan sikat dengan tangan.
Barang
kali begitu juga dengan hidup kita. Ada bagian-bagian hidup kita yang sering
kita biarkan menjadi kerak yang susah di bersihkan. Kita terlena dengan hal-hal
mengasyikan. Lupa bahwa kelakuan kita telah
mengerak sebagai suatu keburukan. Jika demikian maka amat susahlah kita
membersihkan kerak kehidupan kita. Apakah tidak bisa? Pasti bisa. Hanya saja
kita perlu extra kerja keras untuk membersihkannya. Tidak cukup hanya mengelap.
Tidak cukup hanya dengan menyiramkan cairan pembersih kerak. Apakah cairan yang
membersihkan kerak kehidupan kita yang terlanjur ngethal (kerak yang susah dihilangkan). Ya siraman rohani. Dan itu
tidak cukup. Harus di gosok, di sikat dengan sikat kawat, amplas. Hal ini tentu
tidak bisa sekali gosok lalu hilang maka harus bertahap.
Monday, November 4, 2019
Pel dan Manusia
Tentu
anda pernah menge-pel lantai dengan air. Atau pernah melihat orang lain menge-pel lantai dengan air. Tidak
jarang kita melihat mereka menge-pel dengan semangat. Pada awalnya – saat air
lantai belum kering- kita akan melihat hasilnya baik. Tampak bersih dan
mengkilap. Tapi lihat beberapa saat kemudian setelah lantai tampak kering, ia
mulai menampakkan hal yang aneh. Lantai itu tak lagi mengkilap namun busam agak
putih. Dan lagi, ketika banyak orang mulai melintas akan kelihatan bekas
gesekan dengan sepatu yang bawahnya karet akan kelihatan lebih bersih. Namun
hal ini justru akan membuat belang karena yang tidak kena sepatu akan semakin
kelihatan bahwa itu debu yang kena air.
Yang
sesungguhnya terjadi adalah bahwa dilantai itu banyak debu yang amat lembut
menempel. Lalu si tukang pel mengepel lantai dengan kain yang dibasahi air.
Tentu kain pelnya bersih. Atau anggap saja bersih. Namun saat kain pel di
sentuhkan lantai yang berdebu adalah sebagian debu yang amat lembut itu
menempel pada kain pel dan sebagian besar adalah rata karena gesekan kain pel.
Karena rata seolah-olah lantai itu bersih dari debu. Padahal yang terjadi
adalah debu halus rata pada permukaan lantai. Artinya sebenarnya sama saja pel
itu akan meratakan debu dan tidak membersihkan debu lantai.
Sadar
atau tidak sadar begitu lah kadang dalam kehidupan kita. Ada banyak persolan
yang menurut kita sudah selesai, namun
ternyata masalah tidak selesai. Tetapi kita tidak pernah menyadari bahwa
persoalan sebenarnya masih teronggok. Hanya karena lekang oleh waktu masalah
seolah selesai. Dan karena itu kita tidak lagi kembali pada persoalan itu. Atau
mungkin malas untuk mengungkit masalah itu. Anggap saja sudah selesai. Entah
karena membuat tidak nyaman. Entah karena terlalu banyak menguras energi atau
waktu. Entah karena masalah itu tidak terlalu menarik untuk dibahas kembali.
Entah efeknya tidak terlalu signifikan bagi kehidupan pribadi masing-masing.
Dengan
membiarkan masalah teronggok dan berlaku seolah tidak ada masalah maka
sebenarnya kita justru menumpuk masalah. Akumulasi masalah demi masalah besar
kemungkinan suatu saat justru akan menjadi bencana yang dahsyat dalam hidup
kita. Sama halnya menutup lobang dengan menggali lobang yang lain. Hanya seolah
masalah selesai dalam sesaat namun sejatinya tidaklah demikian. Akhirnya hanya
menunggu bom waktu. Siapkah dengan itu? Atau kita memberanikan diri untuk
melihatnya kembali, membersihkan sedikit demi sedikit, mengalami sakit lalu
menyembuhkan dan akhirnya happy ending? BUTUH NYALI!
Salam Gendheng
Subscribe to:
Posts (Atom)
Hak dan Kewajiban Anggota Gereja (Katolik)
Silakan Download di sini https://drive.google.com/file/d/1iDwWxPuKAGyCds_1-xzVIROr6HghX1c2/view?usp=sharing
-
Silakan didownload di sini https://drive.google.com/file/d/1fvXHZt7b-ThYhKD4aAtB49T4AmLEowBQ/view?usp=sharing
-
silakan download di sini https://drive.google.com/file/d/1ULaDFIbIoKvGxRRxS7WV9QlMcXyoSGyQ/view?usp=sharing
-
Silakan Download di sini https://drive.google.com/file/d/1iDwWxPuKAGyCds_1-xzVIROr6HghX1c2/view?usp=sharing

