About Me

My photo
Nama pemberian orangtua Wirato. Baptis dengan nama Antonius. ditambahi nama Adi oleh seseorang. Jadilah Antonius Wierato Adi
Showing posts with label mengambil jarak. Show all posts
Showing posts with label mengambil jarak. Show all posts

Tuesday, July 27, 2021

Allah adalah Sumber Keselamatan Sejati

 Allah adalah Sumber Keselamatan Sejati

silakan download disini

Thursday, November 7, 2019

Kerak Toilet VS Kerak Kehidupan


Hari ini merupakan hari yang istimewa bagi saya. Jam kosong hari ini saya gunakan untuk membersihkan kerak Toilet. Hitam legam dan kasar bila diraba. Begitu juga keempat sisi dinding kamar mandi mulai berwarna kecoklatan dan bintik-bintik hitam. Aku minta kepada salah satu teman untuk mengambilkan dua botol pembersih kerak lantai. Pada awalnya saya mengerjakan pekerjaan ini dengan penuh semangat karena yakin bisa membersihkan dengan baik. Botol pertama saya buka dan langsung saya siramkan ke bagian kerak yang aduhai. Hati mulai senang karena kerak bereaksi dengan mengeluarkan busa putih sebagai tanda kalau dia mengelupas dan jengkel dengan perbuatan saya.
Mulai saya men-nyincing-kan celana (menggulung celana panjang) mendodok (jongkok) dan mulai menyikat kerak lantai dengan serabut baja. Eh ternyata ... bagian kerak lantai ini buandel nya setengah mati. Dengan merek yang kata iklan ampuh ternyata tidak seampuh yang di iklan. Satu botol penuh saya guyurkan dengan maksud kerak segera mau di atur, ternyata hasilnya sama. Lalu dengan merek yang lain yang kata iklan juga lebih aduhai. Hasilnya? Sama saja. Lalu saya mulai meninggalkan kerak di lantai dan di kloset. Beralih ke kotoran yang menempel di dinding. Ternyata bisa. Dengan lebih keras gosokan, kotoran langsung mengelupas.
Tentu saja saat kita menjumpai kotoran yang membandel hanya perasaan jengkel tidak karuan. Kita merasa tidak ada banyak hal yang bisa kita buat selain umpatan-umpatan dalam hati maupun pikiran. saking membandelnya kerak dan kita capek menggosokan sikat dengan tangan. 
Barang kali begitu juga dengan hidup kita. Ada bagian-bagian hidup kita yang sering kita biarkan menjadi kerak yang susah di bersihkan. Kita terlena dengan hal-hal mengasyikan. Lupa bahwa kelakuan kita  telah mengerak sebagai suatu keburukan. Jika demikian maka amat susahlah kita membersihkan kerak kehidupan kita. Apakah tidak bisa? Pasti bisa. Hanya saja kita perlu extra kerja keras untuk membersihkannya. Tidak cukup hanya mengelap. Tidak cukup hanya dengan menyiramkan cairan pembersih kerak. Apakah cairan yang membersihkan kerak kehidupan kita yang terlanjur ngethal (kerak yang susah dihilangkan). Ya siraman rohani. Dan itu tidak cukup. Harus di gosok, di sikat dengan sikat kawat, amplas. Hal ini tentu tidak bisa sekali gosok lalu hilang maka harus bertahap.

Salam Gendheng

Monday, November 4, 2019

Pel dan Manusia



Tentu anda pernah menge-pel lantai dengan air. Atau pernah melihat  orang lain menge-pel lantai dengan air. Tidak jarang kita melihat mereka menge-pel dengan semangat. Pada awalnya – saat air lantai belum kering- kita akan melihat hasilnya baik. Tampak bersih dan mengkilap. Tapi lihat beberapa saat kemudian setelah lantai tampak kering, ia mulai menampakkan hal yang aneh. Lantai itu tak lagi mengkilap namun busam agak putih. Dan lagi, ketika banyak orang mulai melintas akan kelihatan bekas gesekan dengan sepatu yang bawahnya karet akan kelihatan lebih bersih. Namun hal ini justru akan membuat belang karena yang tidak kena sepatu akan semakin kelihatan bahwa itu debu yang kena air.
Yang sesungguhnya terjadi adalah bahwa dilantai itu banyak debu yang amat lembut menempel. Lalu si tukang pel mengepel lantai dengan kain yang dibasahi air. Tentu kain pelnya bersih. Atau anggap saja bersih. Namun saat kain pel di sentuhkan lantai yang berdebu adalah sebagian debu yang amat lembut itu menempel pada kain pel dan sebagian besar adalah rata karena gesekan kain pel. Karena rata seolah-olah lantai itu bersih dari debu. Padahal yang terjadi adalah debu halus rata pada permukaan lantai. Artinya sebenarnya sama saja pel itu akan meratakan debu dan tidak membersihkan debu lantai.
Sadar atau tidak sadar begitu lah kadang dalam kehidupan kita. Ada banyak persolan yang menurut  kita sudah selesai, namun ternyata masalah tidak selesai. Tetapi kita tidak pernah menyadari bahwa persoalan sebenarnya masih teronggok. Hanya karena lekang oleh waktu masalah seolah selesai. Dan karena itu kita tidak lagi kembali pada persoalan itu. Atau mungkin malas untuk mengungkit masalah itu. Anggap saja sudah selesai. Entah karena membuat tidak nyaman. Entah karena terlalu banyak menguras energi atau waktu. Entah karena masalah itu tidak terlalu menarik untuk dibahas kembali. Entah efeknya tidak terlalu signifikan bagi kehidupan pribadi masing-masing.
Dengan membiarkan masalah teronggok dan berlaku seolah tidak ada masalah maka sebenarnya kita justru menumpuk masalah. Akumulasi masalah demi masalah besar kemungkinan suatu saat justru akan menjadi bencana yang dahsyat dalam hidup kita. Sama halnya menutup lobang dengan menggali lobang yang lain. Hanya seolah masalah selesai dalam sesaat namun sejatinya tidaklah demikian. Akhirnya hanya menunggu bom waktu. Siapkah dengan itu? Atau kita memberanikan diri untuk melihatnya kembali, membersihkan sedikit demi sedikit, mengalami sakit lalu menyembuhkan dan akhirnya happy ending? BUTUH NYALI!

Salam Gendheng

Hak dan Kewajiban Anggota Gereja (Katolik)

Silakan Download di sini https://drive.google.com/file/d/1iDwWxPuKAGyCds_1-xzVIROr6HghX1c2/view?usp=sharing